Home > Pemilu 2009 > Megawati-Prabowo atau Prabowo-Megawati

Megawati-Prabowo atau Prabowo-Megawati


Perundingan antara PDI Perjuangan dan Partai Gerakan Indonesia Raya belum menemukan titik temu, siapa yang akan diusung menjadi calon presidennya ?

Dalam rapat kerja Nasional PDIP, banyak kalangan internal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang mendukung Prabowo Subianto dari Partai Gerakan Indonesia Raya menjadi calon wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri.

Prabowo merupakan calon presiden Partai Gerindra yang belakangan makin lengket dengan Megawati. Sejatinya, Mega tidak hanya sering bertemu dengan Prabowo, melainkan dengan petinggi-petinggi partai politik yang lainnya. Hanya saja setelah pemilihan legislatif usai, dalam pertemuan antara Mega dan Prabowo mulai menjurus ke arah koalisi itu. Setiap kali ada kesempatan bertemu, mereka membicarakan banyak hal tentang persiapan pemenangan pemilihan presiden dan penguatan parlemen setelah pemilihan presiden.

Kendati Partai Gerindra hanya meraih sekitar empat persen suara di pemilu, hal itu tidak lantas memposisikan partai di bagian buntut dalam koalisi. Partai Gerindra tetap berusaha keras agar kedua partai menyetujui Prabowo Subianto menjadi calon presiden, sedangkan wakilnya dari PDI Perjuangan.

Apakah akhirnya koalisi ini aka bubar ?
Akhir-akhir ada isu yang merebak di public, PDI-P mulai berpaling ke arah Partai Demokrat. Mengenai hal ini Partai Gerindra mengaku tidak terlalu khawatir dengan isu tersebut.

Tanda-tanda mulai berpalingnya PDI-P, bisa dilihat saat Hatta Rajasa menyambangi Ketua Umum PDIP Megawati dan Ketua Deperpu PDIP Taufiq Kiemas, hari selasa(06/05/09) lalu. Meski hal tsb di bantah oleh Hatta maupun PDIP, namun kesan Hatta sedang memainkan lobi penting sangat jelas terlihat.

Pengamat politik Bima Arya melihat kehadiran Hatta ke rumah Mega memang diutus SBY. Namun, kapasitas Hatta bukanlah sebagai politisi PAN atau hanya sekadar menteri, tapi sebagai orang dekat SBY.

Hatta sendiri berkali-kali menegaskan bahwa statusnya saat berkunjung ke Mega adalah sebagai menteri. Dia membicarakan mengenai status rumah Mega yang sebelumnya rumah dinas dan kini jadi milik pribadi.  Alasan yang terkesan dipaksakan, sebab pembicaraan mengenai status rumah, seharusnya bisa dibicarakan di lain waktu, tidak pada saat menjelang pendaftaran capres.

Dari sumber detikcom, Jumat (8/5/2009) yang saya kutip, Hatta memang diberi tugas SBY untuk melakukan komunikasi politik dengan PDIP. Ini tugas besar, karena selama ini PDIP selalu berseberangan dengan pemerintah pada lima tahun terakhir. Mega juga tidak pernah meluangkan waktunya bertemu SBY. Diundang untuk menghadiri Upacara Proklamasi saja, Mega selalu tidak hadir.

Masih dari sumber detikcom, ada dua tujuan yang ditawarkan politisi berambut perak ini (Hatta-red).

  1. PDIP berkoalisi dengan Demokrat dan sama-sama mengusung SBY sebagai capres.
  2. Bila koalisi PDIP dan Demokrat gagal, maka PDIP dan Demokrat akan tetap bersama-sama menjunjung tinggi etika politik dan komunikasi yang erat dalam membangun bangsa dalam pemerintahan 2009-2014.

Dalam waktu dekat (belum diketahui persis kapan waktu dan tempat pertemuan tsb diadakan), sebelum SBY mengumumkan cawapresnya, akan ada pertemuan penting terkait kerja sama opsi kedua itu. Hatta yang bukan politisi Demokrat diberi kepercayaan untuk merancang hal ini dan melobi terus Taufiq Kiemas dan Megawati.

Baca juga :
Jusuf Kall – Wiranto
Biografi Megawati
Biografi Prabowo
Biografi SBY
Daftar partai lulus Parliament Threshold

sumber : vivanews, detikcom, tvOne

  1. demotrasi
    8 May 2009 at 7:30 am

    Memang akan seru kalau PDI-P dan Demokrat bisa “baikan” lagi, dan artinya koalisi besar yang sudah di deklarasikan jauh-jauh hari itu akan bubar dengan sendirinya.

    Tapi bagaimanapun Megawati pasti dong tidak mau jadi orang No 2 di Negeri ini, lalu siapa ya kira kira yang akan di jagokan sebagai pendamping SBY kelak? Taufik Kiemas?

    • chahyadis
      8 May 2009 at 8:00 am

      Jika PDIP dan Demokrat melakukan koalisi, masyarakat akan di tambah bingung dan smakin tidak mengerti dengan arah politik PDIP.
      Seperti kita ketahui dan ditulis diatas, Demokrat dan PDIP selalu bersebrangan alias g akur.
      Hampir pada setiap kampanye PDIP, kalimat Wong cilik di dengung kan, yang artinya sampai saat ini Wong Cilik masih menderita dan tidak terpenuhinya keinginan para Wong Cilik oleh pemerintah. Jadi jika partai Demokrat sudah bisa memenuhi keinginan dan aspirasi Wong cilik, mengapa PDIP (Megawati) harus berteriak-teriak, atas nama “Wong Cilik” …?
      Selain itu PDIP sudah terikat kontrak politik Koalisi Besar(Golkar, Hanura, Gerindra dll). Jika Koalisi PDIP – Demokrat terjadi, artinya PDIP adalah partai yang paling tidak konsisten dan tidak bisa mengemban amanat para Wong Cilik.

      Yang kecil akan semakin kecil, Yang besar akan semakin besar

  2. Tya
    8 May 2009 at 10:47 am

    setuju bung Chahyadis.. Hanya di Indonesia ada mantan Presiden maju lagi sebagai Capres…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: