Home > News > Michael Jackson

Michael Jackson


Di usianya yang ke-50, Michael Jackson sudah dijadwalkan menggelar 50 pertunjukan di 02 Arena, London, mulai 13 Juli. Tapi riwayat hidupnya menikung ke situasi tak terbayangkan, tidak dalam waktu dekat: dia tutup usia, dan karena itu hanya mungkin ada satu konser, jika memang mungkin—di peristirahatan abadinya. ”The great gig in the sky,” jika boleh meminjam judul sebuah lagu.

Penyanyi yang dijuluki King of Pop itu meninggal di UCLA Medical Center, Los Angeles, Amerika Serikat, Kamis waktu setempat. Dia diduga mengalami sudden cardiac arrest atau serangan jantung. Menurut laporan The Los Angeles Times, Jackson tak bernapas ketika petugas paramedis tiba di kediamannya sekitar pukul 12.30. Mereka berusaha menyadarkannya dan membawanya ke rumah sakit. Tapi dia tak tertolong.

Inilah berita yang menimbulkan gelombang duka di kalangan penggemarnya. Dari mereka yang berkumpul di depan UCLA Medical Center; mereka yang bertanya-tanya di Times Square, New York; juga mereka yang seketika berusaha mengenang dengan memutar lagu-lagu Jackson di berbagai sudut lain di seluruh dunia, yang terlihat adalah wajah-wajah mendung. Ada yang basah matanya. Ada yang sibuk menelepon atau mengirimkan pesan pendek. Internet pun sesak oleh posting senada.

Selama hidupnya, Jackson memang seolah bukan warga dunia. Anak ketujuh dari sembilan bersaudara yang lahir di Gary, Indiana, pada 29 Agustus 1958, ini selalu menantang kelaziman. Sebagai performer, dia punya gerakan dansa yang sulit dilukiskan keelokannya sehingga orang menamainya ”The Moonwalk”. Sebagai lelaki, penampilan fisiknya mula-mula bisa maskulin dan feminin, tapi lalu menjadi bagaikan cyborg, yang membuat penggemarnya bertanya-tanya ada apa dengan kepribadiannya.

Jackson sebenarnya adalah paduan yang unik antara soul, funk, dan rock. Vokalnya yang soulful mengandung karakter Marvin Gaye dan Stevie Wonder, para pendahulunya yang merajai lanskap R&B, soul, dan funk pada 1970-an. Kecakapan dansanya seperti menitis dari James Brown, sang Godfather of Soul pada awal 1960. Toh, namanya melambung bukan semata karena itu, tapi juga berkat intuisinya mengenai pasar musik. Dengan gabungan semua itulah dia menjadi penyanyi paling laris di seluruh dunia.

Dia memulai karier profesionalnya bersama abang-abangnya dalam The Jackson Five saat usianya baru 11 tahun. Melalui Motown Records, dia ikut melahirkan sejumlah hit, seperti I Want You Back, The Love You Save, dan I’ll Be There. Dalam tempo singkat, potensinya untuk melampaui abang-abangnya mulai terlihat.

Tetapi kesempatan nyata baru datang menjelang akhir 1970-an, setelah The Jackson Five redup. Dia bertemu dengan Quincy Jones, produser, komposer, dan penata musik yang telah mencetak hit bersama antara lain Frank Sinatra, Aretha Franklin, dan George Benson. Berkat Jones, dia menempa bakatnya. Dia kebetulan berada pada masa yang tepat pula: kala itu klip video mulai luas diproduksi. Berturut-turut dia menghasilkan Off The Wall (1979), Thriller (1982), dan Bad (1987). Dari Thriller saja, dia sukses menjual lebih dari 50 juta kopi—menjadikannya album terlaris sepanjang masa.

Pada pertengahan 1990-an daya magisnya mulai pudar. Kontroversi tentang kehidupan pribadinya, juga perilakunya yang eratik, menjadi langganan media massa. Penjualan album HIStory (1995) pun gagal memantik kembali popularitasnya. Satu lagu di dalamnya, They Don’t Care About Us, bahkan menimbulkan amarah Steven Spielberg, sutradara yang merupakan teman dan pendukungnya. Kata-kata ”Jew me, sue me” dalam lagu itu dianggap menyebarkan pandangan anti-Semit.

Karier musiknya terus terjun bebas. Tuduhan mencabuli anak di bawah umur dan urusan perkawinan yang berantakan terus menderanya. Hubungannya dengan Sony Music Entertainment, label yang menaunginya, juga memburuk—dan berakhir ketika dia memutuskan hengkang dari Sony menjelang peluncuran album terakhirnya, Invincible (2001). Belakangan juga berembus rumor bahwa dia bangkrut.

Dia masih punya keinginan untuk come back. Ketika tiket serangkaian konser untuk itu mulai dijual, ratusan orang antre di O2 Arena dan lebih dari seperempat juta orang lainnya antre secara online.

Tapi kini 750 ribu pembelinya sudah pasti tak akan menyaksikan konser apa pun dari Jackson. Mereka hanya akan bisa mengenang dia, mungkin dengan menyenandungkan “One Day In Your Life“, salah satu hitnya: “Though you don’t need me now/I will stay in your heart…”.

sumber : tempo

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: