Home > Opini > Keadilan yang tertindas

Keadilan yang tertindas


Semakin hari jika kita lihat berita baik di media elektronik maupun media cetak, negara ini terlihat kacau balau. Para petinggi berselisih satu dengan yang lainnya, semuanya mencari kebenaran dan keadilan dan semuanya merasa paling benar.

Jika kita sering amati dan terus baca berita-berita hangat terkini, semakin pusing dibuatnya, si A bilang begini dan si B bilang begitu saling serang dan jatuhkan. Belum tuntas kasus si A dan si B muncul kasus lain lagi, dan mulai lagi bersilat lidah satu sama lain.

Diatas mereka berselisih untuk kepentingan politik, pribadi dan juga partainya. Dan dibawah siapa yang memperhatikan… ?

Lihat kasus-kasus penindasan orang-orang besar menindas rakyat jelata. di Semarang, jawa timur misalnya Bp Kholil dan Bp Basar yang telah mencuri 1 (satu) buah semangka, harus merasakan dinginnya penjara. Seorang nenek  (Mbah Minah) di Banyumas, jawa tengah, mencuri 3 (tiga) buah Kakao milik perusahaan PT Rumpun Sari Antan, menjadi pesakitan di Pengadilan Negeri Purwokerto. Lebih naas lagi yang dialami oleh Manisih (39) dan dua anaknya, yakni Jowono (16) dan Rustono (14), serta sepupunya Sri Suratmi (19). Keempatnya merupakan warga Desa Kenconorejo, Kecamatan Tulis, Kabupaten batang, keempatnya kedapatan membawa sekarung kecil buah randu seberat 14 kg di perkebunan milik PT Segayung di Desa Sembojo, Kecamatan Tulis, pada awal November lalu. Keempatnya kemudian dilaporkan ke polisi dengan tuduhan mencuri buah randu oleh satpam perusahaan yang memproduksi kapuk tersebut, akibat kasus tersebut mereka harus merasakan dinginnya penjara dan tuntutan sekitar 7 tahun penjara, padahal jika di uangkan nilainya tidak lebih dari Rp. 10.000,-.

Melihat kasus-kasus diatas, apakah keadilan sudah ada di negeri ini dan apakah para penegak keadilan malu menyebut dirinya adalah keadilan ?

Yang salah harus dihukum, itu adil, tapi harus sesuai dengan porsi masalahnya, jika hanya mencuri buah randu yang jika diuangkan kurang dari Rp. 10.000,- harus mendapat tuntutan 7 tahun penjara, bagaimana dengan para koruptor yang telah menghabisi uang negara ?

Kenapa penegak keadilan hanya bisa menindas kaum lemah yang tidak mengerti hukum sama sekali ? apakah karena bayaran yang menggiurkan dari orang-orang berduit ?

Lihat baik-baik kasus yang menimpa Direktur PT Masaro Radiokom, Anggoro Wijaya, yang telah merugikan negara milyaran rupiah. Apakah orang-orang seperti mereka bisa diadili dengan seadil-adilnya ? belum selesai kasus Anggoro akan dibawa kemana, semua orang sibuk dengan kasus Century.

Sepertinya kasus-kasus yang mencuat dari orang-orang besar hanya menjadi opini publik saja setelah itu akan berhenti dengan sendirinya, karena pencari keadilan sudah merasa lelah.

Dan diakhir cerita, ini akan menjadi bahan kelakar para politikus-politikus busuk dalam mabuknya.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: