Archive

Archive for the ‘Pemilu 2009’ Category

MK Tolak Gugatan JK dan Mega

13 August 2009 Leave a comment

Setelah keluarnya putusan MK (Mahkamah Konstitusi) kemarin (12/08/2009), yang di pimpin oleh Mahfud MD didampingi Wakil Ketua MK Abdul Mukthie Fadjar dan hakim konstitusi Arsyad Sanusi, yang menolak gugatan hasil pemilu yang diajukan tim Mega-Prabowo dan JK-Wiranto.

Keputusan itu diambil dari berbagai bukti dan dalil yang digelontorkan kubu Mega-Prabowo dan JK-Wiranto di sidang sengketa perselisihan pilpres. Ketua MK Mahfud MD mengatakan tidak menemukan bukti yang cukup, baik untuk masalah kualitatif maupun kuantitatif yang menyatakan hasil pilpres cacat hukum dan tidak sah.

Sengketa pilpres memang dikelompokkan menjadi masalah yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Masalah yang bersifat kualitatif, yaitu terkait dugaan keterlibatan asing, IFES dalam tabulasi nasional, penghapusan atau pengurangan TPS, DPT, dan pelanggaran pemilu lainnya. Adapun yang kuantitatif mencakup dugaan penggelembungan suara dan pengurangan suara.

Dalam permohonannya, JK-Wiranto menyatakan, KPU telah melakukan penggelembungan suara untuk pasangan SBY-Boediono sebanyak 25.303.054. Dalam sidang, kata Mahfud, JK-Wiranto hanya merujuk pada bukti-bukti yang berkaitan dengan DPT.

Selain itu, soal pengurangan jumlah TPS yang diklaim kubu JK-Wiranto sehingga mengakibatkan kehilangan suara sebesar 34.500.000. Hal ini, tambah Mahfud, hanya berupa asumsi semata tanpa disertai bukti yang dapat dipertanggungjawabkan validitas dan otentisitasnya.

Demikian juga dengan dalil yang diajukan pemohon Mega-Prabowo, seperti soal penyimpangan hasil penghitungan penghitungan suara di 25 provinsi disebut tidak terbukti secara hukum. “Mahkamah berkesimpulan memang telah terjadi beberapa kesalahan prosedur dalam pilpres, namun bukanlah merupakan pelanggaran yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif,” cetus Mahfud.

Kendati menghormati Putusan Mahkamah Konstitusi, tetapi kubu Mega-Prabowo mengaku kecewa atas kekalahannya. Ketua Kuasa Hukum Mega-Prabowo, Arteria Dahlan, menilai Putusan MK ambigu dan tidak memberikan keadilan sesungguhnya. “Mahkamah tidak mampu menggali keadilan. Ini hanya normatif belaka,” kata Arteria seusai sidang Putusan MK, di Gedung MK.

Dalam keterangan Pers-nya, Megawati mengucapkan rasa terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia atas proses demokrasi yang berjalan. “Pada kesempatan ini pula, kami menyampaikan dan mengucapkan beribu rasa terima kasih kepada tim hukum, pendukung, simpatisan, sukarelawan, para pemilih, dan seluruh rakyat Indonesia,” katanya.

Dengan hasil putusan MK tersebut, rencanannya KPU akan segera membahas waktu penetapan Capares-Cawapres.

Jadwal penetapan calon presiden dan wakil presiden tersebut akan dibahas melalui forum rapat pleno yang harus dihadiri seluruh komisioner di kantor KPU. Jadwal rapat pleno itu sendiri itu sekarang belum ditetapkan karena masih menunggu semua komisioner kembali dari tugas kerja di luar daerah. Misalnya Ketua KPU, Abdul Hafiz Anshary, hari ini belum dapat kembali ke KPU karena masih kunjungan kerja di daerah Kalimantan.

Sumber : Kompas.com, TvOne, detikcom

Peta politik pilpres 2009

13 July 2009 Leave a comment

Berdasarkan hasil perhitungan cepat (Quick Count) sudah dipastikan bahwa pasangan SBY-Boediono menang telak (60,85%) mengungguli pasangan Mega-Pro dan JK-Win.

Sebelum pemilu pilpres (8/07/09) di mulai, pasangan Mega-Pro dan JK-WIN banyak melakukan manuver politik yang mengundang simpati masyarakat, sehingga popularitas kedua pasangan tersebut terus menanjak menyaingi pasangan SBY-Boediono.

Mega-Pro banyak melakukan kontrak politik dengan korban LAPINDO, pelajar, pemuda, mahasiswa, para pedagang kecil dan masyarakat lain. Dengan ekonomi kerakyatan yang diusung pasangan ini, sudah dipastikan bahwa pemilihnya adalah golongan masyarakat bawah (Wong Cilik).

Tidak kalah dengan Mega-Pro, pasangan JK-WIN yang mengusung motto “lebih cepat, lebih baik” serta program MAMPU -nya, bisa merebut suara golongan muda, selain itu dengan dukungan dari para ulama NU dan Muhammadiyah semakin mengukuhkan kekuatan mereka. JK-WIN juga merupakan pasangan Nusantara yang mewakili semua golongan, dengan kelicahan JK dan wibawa Wiranto, sudah bisa dipastikan mereka bisa masuk pada putaran 2 pilpres 2009.

Tapi fakta berkata lain, ternyata popularitas SBY begitu kuatnya, pada tahun 2004 SBY mencuat sebagai orang yang “terzalimi” oleh megawati dan kali ini SBY terpilih kembali karena citra yang kuat sebagai pemimpin yang santun, tenang dan tidak mengambil kebijakan yang radikal.

Waktu yang sangat singkat ini masih belum mampu mengangkat pencitraan JK-WIN dan MEGA-PRO, sehingga masyarakat lebih memilih SBY dibanding dengan calon lainnya.

Lihat saja yang terjadi dengan Bantar Gebang, semua orang tahu disana MEGA-PRO melakukan deklarasi pencalonannya untuk ikut pilpres 2009 dan bisa dikatakan juga sebagai basis pasangan ini. tapi kenyataanya berkata lain, SBY-Boediono berhasil memenangkan perolehan suara disini.

Deklarasi dan dukungan kaum ulama NU dan Muhammadiyah untuk mendukung pasangan JK-WIN pun tidak diikuti oleh para pengikutnya, mereka lebih cendrung memilih SBY-Boediono.

Hal yang paling memilukan terjadi pada pasangan JK-WIN, bagaimana tidak pada pemilu pilpres ini mereka hanya memperoleh dukungan sebesar 12,58% (LSI), padahal kita mengetahui pada pemilu legislatif, Golkar memperoleh suara sebesar 14,45% ditambah dengan perolehan suara Hanura sebesar 3,77%, jadi jika dijumlahkan menjadi 18,22%, selain itu dukungan dari masyarakat bugis dan para ulama, mungkin perolehan suara kotornya bisa mencapai antara 20%-30%.

Jika dilihat dari hasil quick count JK-Win hanya memperoleh 12,58% saja, kemanakah suara Golkar dan dimanakah solidaritas para kader Golkar ?

Seperti yang kita ketahui, pencapresan JK di pemilu 2009 ini hanya diputuskan dalam sebuah forum ekslusif yang tidak melibatkan secara merata elemen partai Golkar dari tingkat atas kebawah.

Ada tiga faktor yang menyebabkan kekalahan JK terutama di basis-basis suara Golkar :

  1. Pemilih Golkar tidak mendukung secara penuh pencalonan JK sebagai Presiden

  2. Mesin Golkar sudah mulai tergerus dimana basis grass root juga tidak bekerja dengan maksimal dan hal ini sudah terjadi sejak pilpres 2004 yang lalu.

  3. Persaingan para elit di dalam tubuh Golkar dalam perebutan kekuasaan

Mantan ketua umum partai Golkar, Akbar Tandjung mengatakan kekalahan JK di basis-basis suara Golkar, karena JK lebih mementingkan diri sendiri ketimbang partainya, dimana JK tidak pernah melibatkan infrastruktur partai, khususnya DPD tingkat II dalam penetapan capres. Akibatnya mesin politik Golkar didaerah tidak berjalan dengan optimal.

Berikut ini adalah daftar lokasi tps dan capres terpilih (sumber : rakyat merdeka) :

LOKASI TPS PEMENANG
Kalimantan
Samarinda SBY
Balikpapan SBY
Bontang SBY
Tarakan SBY
Kutai Barat Mega
Indonesia Timur
Kupang SBY
Papua SBY
Sumatera
Kota Medan SBY
Sumatera Barat SBY
Pantura & Sebagian Jawa
Cirebon SBY
Subang SBY
Purwakarta SBY
Tasikmalaya SBY
Jawa Barat SBY
Bogor SBY
Bantar Gebang SBY
Kota Bekasi SBY
Kuningan SBY
Cirebon SBY
TPS Gubernur Banten SBY
Jateng, Jatim, Bali, NTB, NTT
Probolinggo SBY
Lumajang Mega
Jombang SBY
Sleman SBY
Denpasar SBY
Badung SBY
Jembrana SBY
Yogyakarta SBY
Bangkalan SBY
Banyumas SBY
Kuloprogo SBY
Tebu Ireng SBY
Bandungan Jateng SBY
Luar Negeri
Malaysia SBY
Texas SBY
Lapas di Indonesia
Lapas Makasar JK
Lapas Balikpapan Mega
Lapas Banjarmasin SBY
Lapas Pangkalpinang Mega
LP Nusakambangan SBY
Lapas Kerobokan Bali SBY
Baca juga : Sebuah Pukulan untuk JK

Sebuah pukulan untuk JK

10 July 2009 Leave a comment

Semua orang tidak akan pernah menyangka dengan hasil quickcount yang beredar sekarang, dimana pasangan JK-WIN hanya bisa menempati urutan terakhir sesuai dengan nomor urutnya (3). Sampai saat ini JK-WIN hanya memperoleh 12.59% suara (sumber: LSI), jauh dibandingkan dengan SBY-Boediono (60, 85%). Apa gerangan yang terjadi dengan pasangan ini ?

Seperti yang kita ketahui, pada pemilu legislatif, Golkar memperoleh suara sebesar 14.45% dan Hanura 3.77%, jika di jumlahkan perolehan suara Golkar dan Hanura bisa mencapai 18. 22%, belum lagi ditambah dengan simpatisan dari partai lain dan perorangan, mungkin secara kasarnya bisa mencapai 20% –  30%.

Melihat hasil perolehan sementara yang demikian mengagetkan, semakin membuat orang penasaran dan bertanya-tanya. Kemanakah dukungan dari Partai Golkar tempat JK bernaung selama ini ? Apakah Sang ketua umum ini (JK) tidak pantas untuk memimpin indonesia ? atau ada syarat kepentingan lain, yang ingin di capai para dedengkot Golkar ?

Jika kita review kembali sebelum pemilu pilpres 2009, pasangan JK-WIN begitu dasyat bermanuver dalam mencari dukungan, bahkan popularitas JK-WIN langsung menanjak drastis dan membuat kubu SBY-Boediono kelabakan. Dari mulai dukungan para Ulama baik Muhammadiyah maupun NU sampai dukungan dari para tokoh nasional dan budayawan seperti yang kita lihat dari iklan di televisi. Selain itu iklan-iklan yang ditayangkan pasangan JK-WIN cukup efektif, tepat sasaran dan mengundang simpati masyarakat.

Tapi sayang sekali begitu kita melihat hasil sementara pilpres 2009 ini, pasti sangat sulit diterima olek kubu JK-WIN, yang jelas ini adalah pukulan telak bagi JK khususnya.

Seperti yang kita ketahui, sebelum acara pemilu pilpres 2009 ini, kubu Golkar sudah di guncang oleh masalah internal, seperti 25 DPD tingkat I yang menghendaki Golkar merapat kembali ke Demokrat, lalu muncul isu adanya kubu sakit hati yang di gawangi oleh Akbar Tanjung, Aburizal Bakrie dan Agung Laksono. Jadi bisa dipastikan jika suara golkar lainnya sudah beralih ke Demokrat.

Ibarat kata, selain dipukul dari orang-orang terdekatnya (Golkar) JK juga dipukul dari luar. “Inilah politik, syarat dengan kepentingan pribadi, akan jadi sahabat, jika memberikan keuntungan dan akan ditinggalkan jika sudah tidak bermanfaat“.

Atau ini adalah karma dari sikap JK yang membelot pada pilpres 2004, dimana pada pilpres 2004 tersebut (hasil pemilu Golkar wiranto menjadi capres dari Golkar) JK malah bergabung dengan SBY menjadi wakilnya, sehingga suara golkar terpecah.

Tapi walau bagaimanapun juga, kita harus legowo dan menerima hasil pemilu pilpres 2009 ini, dan berdo’a untuk kebaikan bangsa ini, semoga pemimpin terpilih bisa lebih peduli pada kesejahteraan rakyat kecil.

Berikut ini adalah hasil perolehan sementara dari beberapa lembaga survei  dan KPU (sumber : detikcom):

Quick Count Pilpres 2009

Lembaga
LSI (1) 26,56% 60,85% 12,59%
LSI (2) 27,36% 60,15% 12,49%
LP3ES 27,40% 60,28% 12,32%
Puskaptis 28,16% 57,95% 13,89%
CIRUS 27,49% 60,20% 12,31%
LRI 27,02% 61,11% 11,87%
KPU 28,57% 61,66% 9,77%


PENYESATAN KAMPANYE SATU PUTARAN SBY-Boediono

18 June 2009 Leave a comment

Gencarnya kampanye satu putaran yang dilakukan oleh tim sukses SBY-Boediono, dinilai banyak kalangan merupakan salah satu usaha pembodohan publik. Mereka beralasan, dengan pemilu presiden sekali putaran maka akan menghemat biaya sehingga efisiensi dapat tercipta.

Padahal kita semua mengetahui berapa besarnya dana yang telah dikeluarkan untuk kampanye pasangan pilpres tersebut, seharusnya ini bisa menjadi perhatian khusus bagi kubu SBY-Boediono, bukan hanya iklan.

Dalam iklan tersebut juga ditampilkan hasil riset Lembaga Survei Indonesia (LSI), yang menyatakan bahwa pasangan SBY-Boediono berpotensi untuk menang satu putaran. Pasangan ini juga disebut telah didukung oleh koalisi partai yang menguasai mayoritas kursi DPR 2009-2014.

Dan pada iklan tersebut terpampang pula gambar Ketua Umum Gerakan Nasional Setuju Satu Putaran Saja, Denny JA, yang juga merupakan Direktur Lingkar Survei Indonesia (LSI).

Ada apa sebenarnya dengan LSI ini ?
Seperti kita ketahui LSI telah melakukan survei pilpres 2009 dan menyatakan pasangan SBY-Boediono menang dalam satu putaran dengan perolehan suara sekitar 70%, kemudian diikuti oleh pasangan Mega-Pro (18%), dan terakhir JK-WIN(7%).

Hasil survei LSI tersebut masih menjadi kontroversi, karena seperti kita ketahui dalam pemilu legislatif saja Partai Demokrat hanya mendapat dukungan sekitar 21%, itu sudah termasuk dukungan terhadap SBY sendiri, dan sisanya 30% dari partai koalisi pendukungnya.

Banyak isu menyebutkan bahwa LSI dibiayai oleh FOX Indonesia,  yaitu perusahaan konsultan politik milik keluarga Malaranggeng, sebagai pensukses SBY-Boediono. Dan hal ini telah diakui oleh Direktur Riset LSI Kuskrido Ambardi.

Untuk survei ini, setahu saya dibiayai oleh Fox (Indonesia)“, ujarnya.

Di tambah dengan munculnya Iklan dan gambar Direktur Lingkar Survei Indonesia, semakin menguatkan pandangan masyarakat, jika LSI telah ditunggangi oleh kubu SBY-Boediono.

Jika kita amati kembali, pasangan JK-WIN dan Mega-Pro, mulai menunjukan sinarnya dalam pilpres 2009, banyaknya dukungan yang berdatangan pada kedua pasangan ini, jadi tidak bisa dianggap remeh begitu saja, bahkan banyak dari partai koalisi pendukung SBY-Boediono yang mengalihkan dukungannya pada kedua pasangan tersebut, artinya, kepopuleran SBY-Boediono semakin lemah, ditambah dengan munculnya isu Neolib yang diusung oleh pasangan ini.

Iklan Satu putaran mendukung SBY-Boediono adalah bentuk kepanikan dan juga penyesatan terhadap masyarakat. Seolah-oleh pasangan ini mengharuskan masyarakat untuk memilih mereka, dengan dalih penghematan.

Selain itu, Iklan tersebut dianggap sebagai pelecehan terhadap dua kandidat lainnya. Fadli Zon, Sekretaris Umum Tim Nasional Mega-Pro, menilai hal ini sebagai ketakutan pasangan SBY-Boediono jika harus bertarung dua putaran.

Ini wujud dari kepanikan mereka dan menunjukkan arogansi pasangan SBY-Boediono dan tim kampanyenya,” ucapnya

Sedangkan Mantan Ketua RUU Pilpres Ferry Mursyidan Baldan menilai kampanye pilpres satu putaran yang dilakukan oleh Tim Kampanye dan pendukung SBY-Boediono menyesatkan. Sebabnya, konstitusi memberikan jaminan kepada rakyat untuk memilih apakah satu putaran atau 2 putaran dalam memilih calon pemimpinnya.

Sesungguhnya, kita tidak anti satu putaran dalam Pilpres. Tetapi kesan yang ingin dibangun bahwa pilpres satu putaran saja itu yang menyesatkan. Karena sejatinya konstitusi dan UU Pilpres mempersilakan apakah rakyat mau 1 atau 2 Putaran. Yang penting memenuhi syarat perolehan angka kemenangan yang ditentukan,” kata Ferry.

Menurutnya lagi, kampanye pilpres satu putaran mengabaikan semangat dibangunnya UU Pilpres yang terbuka dan demokratis. Setidaknya semangat kemenangan yang berdasarkan kemajemukan sebagai ciri ke Indonesiaan ingin ditanggalkan dengan kampanye pilpres 1 putaran.

Ferry pun menyindir, jika temanya adalah penghematan, sudah berapa banyak biaya iklan yang dikeluarkan untuk pasang iklan pilpres satu putaran. Kenapa tidak dimulai dari dirinya untuk melakukan penghematan.

Referensi : detikcom, TvOne

Baca juga :

Monolog Butet Kertaradjasa

15 June 2009 Leave a comment

Penampilan kesenian Tim Mega-Prabowo dalam Deklarasi Pemilu Damai yang diwakili oleh monolog Butet Kertaradjasa (10/06) membuat kubu Partai Demokrat meradang. Namun sindiran Butet tersebut dianggap pengamat sebagai hal yang wajar.

Menurut pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Maswadi Rauf, para capres-cawapres harus terbiasa dengan kritik dan otokritik. Selama kritikan tersebut masih dalam batas kewajaran, menurutnya sah-sah saja.

Dalam kampanye para capres-cawapres harus siap dikritik tanpa harus tersinggung. “Kalau takut tersinggung, ya nggak usah kampanye. Kampanye harus membuka diri untuk tidak tersinggung” pungkasnya.

Menurut pengamat politik dari Fisipol UI, Arie Sujito, monolog butet tersebut tidak perlu ditanggapi secara reaktif dan emosional. Sebab pesan yang diungkapkan Butet merupakan aspresiasi seni semata. Apa yang disampaikan Butet memang sangat tendesius. Namun, hal itu merupakan berbagai problem yang muncul selama pemilu legislatif dan agenda kebangsaan yang menjadi keresahan masyarakat juga.

Menganggapi hal ini, Partai Demokrat (PD) angkat bicara seputar monolog seniman Butet Kertaradjasa saat deklarasi pemilu damai. PD berharap komitmen capres cawapres harus ditunaikan.

Statement pasangan capres-cawapres tidak hanya formalistik dan sekedar memenuhi jadwal ritual, melainkan benar-benar ditunaikan” kata Ketua DPP PD, Anas Urbaingrum.

Anas berharap capres-cawapres peserta Pilpres bersikap dewasa dan siap menerima segala kemungkinan baik menang atau kalah sekalipun.

Dalam politik pencitraan, menyerang saat kampanye hal yang wajar. Reaksi kubu Capres SBY terhadap penampilan kesenian Tim Mega-Prabowo saat Deklarasi Pemilu Damai yang diwakili oleh monolog Butet Kertaradjasa dinilai berlebihan, menurut Effendi Gazali.

SBY sebagai capres incumbent pasti banyak diserang. “SBY menekankan pada sopan santun. Padahal, seseorang dalam posisi incummbent seperti dia, pasti banyak yang menyerang. Justru kalau kita semakin sopan akan semakin lemah” ujarnya.

Lebih bagus, lanjut Effendi, SBY kerja keras daripada berkoar-koar untuk melakukan hanya 1 putaran. “Jadi menurut saya, orang lain akan melihat bahwa SBY itu sombong. Jika Anda bisa menang di Pileg, kemudian memerintah kedua kalinya, kan tidak ada yang bisa dipertaruhkan” papar nya.

Jubir Tim Sukses SBY-Boediono Rizal Mallarangeng, membantah adanya tekanan kebebasan berekspresi terhadap budayawan Butet Kertaradjasa terkait monolog saat deklarasi pemilu damai. Butet masih tetap dapat berekspresi. Menurut Rizal, pernyataan Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng terkait monolog Butet yang menyinggung SBY bukan sebuah ancaman, melainkan keheranan. Sebab kritikan dilakukan di forum yang tidak seharusnya.

Sementara itu, Sekretaris Tim Kampanye Nasional Mega-Prabowo, Fadli Zon, mengatakan aksi Butet yang cukup mengagetkan pada Deklarasi Pemilu Damai tersebut bukan sesuatu yang disengaja. Penampilan Butet sangat apa adanya. “Sama sekali tidak ada pesanan, kita beri kebebasan pada Butet“, imbuhnya.

Aksi ini boleh jadi membuat kuping SBY panas. Raut wajah SBY yang sebelumnya sumringah tampak tegang saat Butet tampil. Bagaimana tidak, karena monolog yang gayeng itu dilontarkan di depan SBY sendiri, tanpa tendeng aling-aling. Kritikan Butet membombardir mulai dari masalah utang negara, korupsi, hingga banyaknya pesawat Indonesia yang sering jatuh sebelum perang terjadi.

Mendengar sindiran butet yang langsung dilihatnya di depan mata, raut muka SBY tampak menahan marah. Padahal sebelumnya, SBY banyak mengumbar senyum lantaran terhibur oleh penampilan putra Bagong Kusudiharjo ini. Sementara, para hadirin lainnya tertawa terpingkal-pingkal.

Terlepas dari pro dan kontra penampilan Butet dalam Deklarasi Pemilu Damai, yang jelas masyarakat Indonesia disuguhi atraksi yang ‘menakjubkan’ sekaligus menghibur, tapi menyayat bagi yang merasa tersindir.

sumber : detikcom

Baca juga :

Mega-Pro dan Kontrak Politik

15 June 2009 Leave a comment

Dalam menanggapi masalah bangsa, dan mulai hilangnya kepercayaan pada para calon dan pemimpin bangsa, ditanggapi oleh pasangan Mega-Pro dengan serius, keberanian dalam mengambil langkah dan sikap, patut kita acungkan jempol terhadap pasangan Mega-Pro ini.

Prabowo kontrak politik dengan Pelajar, Mahasiswa dan pemuda

Disaksikan ribuan pelajar, mahasiswa dan pemuda, Prabowo Subianto menandatangani kontrak politik di Bumi Wiyata, Margonda, Depok, Jawa Barat, Rabu siang (10/6). Kontrak tersebut berupa kesepakatan pasangan capres-cawapres Megawati-Prabowo untuk mencabut UU No. 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang dianggap merugikan rakyat.

UU BHP dianggap bertentangan dengan semangat Pancasila dan UUD 1945. Dengan adanya UU itu, pendidikan menjadi mahal, sehingga hanya anak orang kaya yang bisa menjadi sarjana. “Orang miskin seperti anak-anak petani dan nelayan tidak akan bisa menyekolahkan anaknya sampai ke perguruan tinggi” ujar Prabowo dalam sambutannya. Karena itu, ia bersedia meneken kontrak politik untuk mencabut undang-undang yang tidak pro rakyat.

Acara kontrak politik tersebut dihadiri perwakilan dari enam perguruan tinggi yakni Universitas Kristen Indonesia (UKI), Universitas Pembangunan Nasional (UPN), STIE Dharma Bumiputra, Universitas Nasional, semuanya dari Jakarta, serta UIN Alauddin Makassar. Ada juga perwakilan dari pelajar yakni SMK di daerah Depok, pengamen jalanan dan pedagang kaki lima. Prabowo sempat mendengarkan keluhan-keluhan  mereka.

Perwakilan mahasiswa dari UIN Alauddin dan UKI, mempersoalkan diterapkannya UU BHP pada akhir 2008 yang dianggapnya merupakan bentuk komersialisasi pendidikan.  Karena itu, mereka meminta jika Mega-Prabowo berkuasa segera mencabut UU BHP. Salah satu wakil pelajar SMK, Bangun Satriadinata mempersoalkan iklan pemerintah tentang sekolah gratis yang ternyata tidak benar-benar gratis. Karena tetap saja ada biaya pendidikan yang harus tetap ditanggung pelajar yang cukup berat bagi orang tua murid.

Kontrak Politik dengan Korban Lapindo

Menindaklanjuti pertemuan dengan perwakilan pemuda  korban Lumpur Lapindo pada 5 Juni 2009 lalu yang berlangsung di “Rumah Perjuangan” jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat, pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden RI tahun 2009, Hj Megawati Soekarnoputri dan H Prabowo Subianto, telah menjadwalkan Deklarasi dan Kontrak Politik dengan mereka di Porong, Sidoardjo, Jawa Timur, pada 16 Juni 2009 mendatang.

Pada kesempatan itu, Mega-Prabowo akan bertemu dengan para korban Lapindo, sekaligus mengungkapkan rasa empatinya. Terutama kepada ribuan korban yang selama tiga tahun ini tidak mendapat perlakuan yang layak. Keragu-raguan pemerintah selama ini justru membuat nasib korban semakin tidak jelas.

Prabowo Kontrak Politik dengan APSI

Calon wakil presiden Prabowo Subianto melakukan kontrak politik dengan Asosiasi Pedagang Seluruh Indonesia (APSI) di Pasar Baru Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (14/6/2009), yang dihadiri sekitar 400 pedagang pasar porong.

Saat menyinggung pedagang tradisional, Prabowo berjanji akan memperjuangan hidup pedagang agar lebih meningkat. Sebab selama ini pedagang membutuhkan dana dari rentenir. Pihaknya juga akan menghapus masalah outsourcing bagi buruh.

sumber : detikcom

Baca juga :

Wajah Megawati Memancarkan Aura Kemenangan

7 June 2009 2 comments

OLeh AL Ibrahim

Penampilan Megawati di depan publik sejak kampanye pemilu legislatif sampai kampanye pilpres mungkin menarik untuk disimak, sebab mantan presiden tersebut secara tidak langsung menjadi tempat bertanya sekaligus meminta petunjuk bagi pemimpin politik. Megawati bahkan sudah menjadi simbol bagi perubahan sistem politik dan ekonomi, ini dibuktikan hampir semua pemimpin partai harus mengunjunginya di Jalan Tengku Umar Jakarta.

Pemimpin pertama yang datang adalah ketua Dewan Pembina Gelindra Prabowo Subianto, khusus membicarakan masalah DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang mencuat kepermukaan sebelum kampanye pemilu legislatif, karena adanya pemilih ganda dan banyak warga negera yang tidak terdaftar. PDIP adalah partai yang mengangkat masalah DPT yang dikeluarkan KPU, kemudian disusul parata Gelindra, Hanura serta partai lainnya.

Prabowo seusai ketemu Megawati sempat mengatakan, “warga yang tidak ada di DPT harus segera dibenahi, kalau tidak pelaksanaan pemilu sebaiknya ditunda“. Namun setelah Megawati mengumumkan bahwa PDIP memang menginginkan DPT diperbaiki, namun pelaksanaan pemilu disarankan tetap sesuai jadwal, Prabowo-pun akhirnya nurut.

Kunjungan Prabowo ke rumah kediaman Megawati kemudian diikuti pula pemimpin partai lainnya, dan klimaks-nya  setelah Wakil Presiden Jusuf Kalla mendeklarasikan diri menjadi Capres untuk ikut bertarung memperebutkan kursi presiden tahun 2009-2014. Rumah Megawati bagaikan tempat yang teduh, karena berturut-turut ketua partai Hanura Wiranto, ketua Golkar Yusuf Kalla, ketua PPP Surya Darma Ali, ketua partai PAN Sutrisno Bakhir, purnawirawan TNI dan beberapa pimpinan partai kecil datang ke Tengku Umar hanya mmeberikan dukungan Megawati.

Menariknya lagi perseteruan Prabowo dengan Wiranto yang berlangsung cukup lama, ternyata bisa  mencair setelah keduanya mengadakan pertemuan dengan sejumlah pimpinan partai di rumah Megawati, seolah-olah sang tuan rumah sudah menjadi mediator sekaligus juru damainya. Kecuali PAN dan PPP yang kemudian menyatakan mendukung kubu SBY, mereka akhirnya bersatu padu membentuk koalisi besar, tujuannya adalah supaya pemerintah dan legislatif masa mendatang bisa lebih kuat.

Penentuan siapa calon Presiden dan siapa yang pendampingnya antara Megawati dengan Prabowo dalam pilpers 2009 tampaknya juga perlu disimak, sebab tarik ulur antara keduanya memakan waktu yang cukup lama. Kenegarawanan Megawati diuji untuk menentukan sikap, karena PDIP sejak lama mencalonkan Megawati menjadi Calon Presiden, tapi dipihak lain Prabowo juga ingin jadi Presiden dengan konsep ekonomi kerakyatan. Saling tarik ulur melalui berbagai pertemuan terus berlangsung, Megawati dengan kebesaran jiwanya akhirnya mengalah, calon presiden tetap Megawati dan Prabowo menjadi calon wakil presiden dengan ketentuan, tim ekonomi harus dibawah kendali Prabowo.

Selaku wakil presiden saya tidak ingin hanya sebagai ban serep, tapi ingin kewenangan berbuat sesuatu untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan. Kita sudah 63 tahun merdeka tapi nasib bangsa tidak berubah, sekaranglah waktunya untuk perubahan” ucap Prabowo di TVOne.

Sebelum pengumuman pencalonan Mega-Pro sebagai Capres-Cawapres, pimpinan partai PDIP termasuk Megawati sendiri tampak tegang dan baru cerah setelah adanya titik temu. Disini memang suatu dilemma, konsep ekonomi kerakyatan yang diusung Prabowo cukup menarik, namun dipihak lain Megawati adalah pilihan capres PDIP.

Saat deklarasi di Bantar Gebang Bekasi, penampilan Megawati sudah mulai memukau para pengunjung. Bicaranya tidak banyak, tapi dari wajahnya terpancar aura seorang pemimpin sejati, padahal hawa panas terik matahari ikut menerpa dirinya. Megawati hanya menyeka keringatnya pakai tissue lalu melambaikan tangan kepada para pendukung dan mendapat respon sangat baik dari masyarakat yang hadir.

Untungnya saya pernah menjadi presiden, sekarang saya bakal menjadi presiden lagi” kata Megawati dengan senyum yang khas saat wawancara dengan reporter telivisi swasta membahas UU tahun 1945.

Pertanyaannya, mengapa Megawati harus mengalah dalam memberikan kewenangan penuh kepada Prabowo dalam bidang ekonomi dan menjadi pusat pengaduan bagi beberapa pemimpin partai ?

Kalau melihat pengetahuan dan kecerdasan, Megawati jelas dibawah pemimpin partai yang lain, ini terlihat dari berbagai dialog baik yang dilakukan Kadin maupun wawancara langsung dengan reporter televisi swasta di Jakarta, namun disisi lain beliau punya gaya tarik tersediri bagi masyarakat umum. Kelebihan nenek yang satu ini mungkin terletak pada karisma, konsisten dan ditambah lagi dengan ketulusan hatinya untuk membangun bangsa Indonesia, ini terpancar dari raut wajahnya diberbagai kesempatan.

Ketulusan Megawati untuk memajukan bangsa tidak diragukan, salah satu buktinya adalah beliau tidak mempersoalkan kekalahan dirinya saat bertarung dengan SBY dalam pilpres tahun 2004 lalu. Bila terpilih nanti, Megawati juga ikhlas memberi kewenangan penuh kepada Prabowo sebagai wakil presden untuk membentuk tim ekonomi kerakyatan.

Kharisma Megawati jelas turun dari bapaknya, Bung Karno dan tidak bisa diragukan lagi, buktinya omongan dia selalu didengar banyak orang mulai sejak memimpin Partai PDIP hingga sekarang ini. Kelompok Kwik Kian Gie dan Laksamana Soekardi mencoba mendongkel kepemimpinan Megawati di PDIP, realitanya Megawati tetap ketua PDIP bahkan partainya tambah solid dan kelompok pendongkel harus tersingkir.

Nama Megawati pernah harum di forum internasional, karena pemilu paling demokratis terjadi pada tahun 2004, saat beliau menjadi Presiden RI. Meskipun Megawati kalah bersaing dengan SBY, namun banyak Negara termasuk Negara adi kuasa Amerika Serikat memuji bahkan ingin belajar dari Indonesia, terutama bagaimana harusnya berdemokrasi.

Meskipun kalah dalam pertarungan, Megawati dengan ikhlas menyerahkan tampuk pimpinan kepada SBY yang menjadi pemenang pemilu. Tapi sayang sikap diamnya telah diartikan dendam pada SBY oleh sebagian kalangan sehingga menimbulkan opini negatif bagi Megawati. Padahal Megawati menyadari betul bahwa mesin partainya tidak bekerja optimal hingga dirinya kalah dalam pertarungan perebutan kursi presiden tahun 2004. Oleh karenanya setelah SBY dilantik menjadi Presiden beliau lebih memilih menjadi oposisi di DPR untuk kepentingan Negara.

Sekarang Megawati kembali tampil menjadi calon presiden dengan wapres Prabowo berhadapan dengan pansangan SBY-Budiono dan JK-Win dalam pilpres tahun 2009. Kalau melihat konsepsional dan penampilan mungkin SBY masih kelihatan unggul, tapi ingat JK-Win yang punya motto “lebih cepat lebih baik“, punya kekuatan jaringan pasar dan NU.

Namun demikian bila ditinjau dari segi kenegarawanan, ketulusan hati ingin membangun bangsa dan aura yang dipancarkan wajah masing-masing calon, maka rasanya Megawati akan mengungguli dua pasangan lain. Semuanya masih tergantung bagaimana mereka mengkampanyekan kelebihan masing-masing dan kreatifitas tim sukses masing-masing peserta pemilu.

Baca juga :